Facebook, Tuhankah???
Facebook,Tuhankah???
Oleh :
Muhammad Muhajir
Berapa
banyakkah waktu yang kita habiskan untuk Facebook-an, Twiteran, BBM-an? Lebih
banyak manakah antara belajar kita dengan sekedar untuk chatting-an?
Lebih lama dan betah manakah Facebook-an, Twiter-an, BBM-an kita dari pada beri’tikaf
di Masjid? Sudah berapa banyakah uang yang kita keluarkan untuk membeli kuota internetan dari pada untuk mengisi
kas Masjid atau Musholla?
Pertanyaan-pertanyaan
diatas seharusnya menyadarkan kita akan borosnya waktu dan uang yang telah kita
buang sia-sia. Memang, di era globalisasi ini teknologi semakin maju, tidak
dapat dipungkiri hadirnya internet semakin dibutuhkan dalam kehidupan
sehari-hari, baik dalam kegiatan sosialisasi, pendidikan, bisnis, dan lain
sebagainya. Sebagai bagian dari media informasi zaman modern, internet
memliliki peran yang sangat signifikan. Internet merupakan salah satu media
informasi yang paling berpengaruh kepada masyarakat yang membuatnya seolah-olah
menjadi penentu perilaku masyarakat khususnya kalangan remaja. Malah bisa
dikatakan internet telah menjadi the first god. Apa yang difatwakan oleh
para ulama baik dari teks-teks Al-qur’an, Hadist-hadist, maupun lewat
pangilan-panggilan majlis pengajian hari ini masih kalah oleh pesan-pesan
propoganda lewat internet.
Selain
sangat mudah dan tidak membutuhkan waktu yang lama bagi seseorang dalam memperoleh
informasi, internet bagi kalangan remaja yang mempunyai media sosial seperti Facebook,
Twiter, BBM, dan sejenisya kegunaanya bisa dikatakan kurang bermanfaat. Biasanya remaja memposting tentang kegiatan
pribadinya, curhatanya, foto-fotonya di media sosial ini. Semakin aktif seorang
remaja di media sosial maka mereka semakin dianggap keren dan gaul. Sebalinya
dikalangan remaja yang tidak mempunyai media sosial biasanya dianggap kuno,
ketinggalan zaman, katrok, dan kurang bergaul.
Percaya
atau tidak, masyarakat Indonesia yang kurang lebih dari 250 juta jiwa khususnya
dikalangan remaja semuanya menggunakan media sosial. Media sosial seakan-akan
sudah menjadi barang yang dicandu, tiada hari tanpa media sosial, bahkan hampir
24 jam mereka tidak lepas dari smartphone atau sejenisnya. Bahkan belum
dikatakan lengkap jika sesorang belum mempunyai media sosial. Media sosial
terbesar yang paling digunakan dikalangan remaja saat ini antara lain; Facebook,
Twiter, Blackberry Messeger, Youtube, Line, Instagram, dan lain sebagainya. Hal
ini tidak berlaku dikalangan remaja kota saja, melainkan telah merabah
keplosok-plosok desa.
Memang
wajar, naluri manusia selalu mencari kesenangan dan hiburan. Ini diperlukan
untuk mengendorkan saraf-saraf otak kita setelah menjalankan aktifitas
seharian. Tetapi perlu diingat, sebagai primadona internet melalui media sosial
memberi imbas yang begitu luar biasa bagi kehidupan masyarakat khususnya para
remaja. Bahkan kehadiranya yang masif, dengan bau kapitalisme-nya yang kental,
baik secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada perilaku dan pola
pikir masyarakat Indonesia.
Hal
ini terbukti dengan penggunaan media sosial dikalangan remaja menimbulkan pro
dan kontra. Penggunaan media sosial seringkali mengganggu proses belajar
remaja, sebagai contoh ketika sedang belajar lalu ada notification chatting dari
teman yang akhirnya dapat mengganggu proses belajar, dan kebiasaan seorang
remaja yang berkicau berkali-kali di Twiter, Facebook, BBM yang terkadang hanya
untuk mengeluh betapa sulit pelajaran yang sedang dia kerjakan. tidak berhenti
disitu saja, yang lebih parahnya lagi ada kasus seorang remaja yang dilaporkan
hilang oleh orangtuanya yang ternyata kabur dengan teman yang baru dikenalnya
di Facebook, ada juga yang bertengkar hanya gara-gara komentar yang kurang
mengenakan di Facebook, ada juga kejahatan, penipuan, dan pengganggu kehidupan
seseorang. Lalu yang menjadi pertanyaanya ialah apa yang menyebabkan seorang
remaja begitu aktif dijejaring sosial? Pertanyaan tersebut dijawab dalam sebuah penelitian, dinyatakan bahwa media sosial berhubungan dengan kepribadian
introvert. Semakin introvert seseorang maka dia akan semakin aktif di
media sosial sebagai pelampiasan.
[Setyastuti, Yuanita. 2012. Aprehensi Komunikasi Berdasarkan Konteks
Komunikasi dan Tipe Kepribadian Ekstrovert-Introvert. Jurnal Komunikator.
Volume 4, nomor 2, Bulan November 2012].
Kalau
sudah begitu, dimana suatu perkara atau perbuatan yang tidak mungkin dihadang
maka yang paling mungkin adalah memperkokoh benteng akidah generasi muda untuk
mempertebal filternya, sehingga tidak mudah terbawa arus negatif perkembangan
zaman. Apalagi sekarang ini adalah era demokrasi, yang mana semuanya itu terbuka
lebar yang sangat memungkinkan dan memang diperbolehkan setiap orang untuk
mengekspresikan keinginanya selama tidak melanggar hak asasi orang lain.
Perwujudanya terkadang banyak orang terutama kaula muda yang terlalu berlebihan
dalam menunjukan identitasnya melalui cara-cara yang tidak seharunya dilakukan.
Mungkin
itulah kenapa Rosulullah pernah bersabda “Kalau kamu tidak merasa malu, maka
lakukanlah apa saja yang kamu sukai”. Sepintas ucapan rosul ini seperti
perintah, tetapi seseungguhnya ini merupakan bentuk sindiran sekaligus ancaman
terhadap umat Islam. Oleh karena manusia memiliki nafsu yang terkadang
cenderung negatif, Islam juga mengatur umatnya agar selalu berlaku baik sesuai
tuntunan Allah dan Rosul-Nya. Sehingga Islam dengan sangat tegas telah
membatasi antara perbuatan yang halal dan haram. Disana juga ada tatanan yang
bersifat sentral dan ada pula tatanan yang bersifat moral.
Jika
globalisasi telah meluluhlantakan tatanan moral para generasi muda saat ini
baik dari segi pergaulan, etika terhadap orang tua, guru, sesama, pola, dan
jenis-jenis konsumsi, Islam sesungguhnya sangat memperhatikan betul bagaimana
pendidikan akhlak itu harus menjadi bagian dari proses perjalanan manusia mulai
anak-anak, remaja, dewasa, hingga orangtua. Dengan demikian salah satu ajaran
Islam yang sangat penting adalah akhlak.
Pendidikan
akhlak, moral, atau etika merupakan segmen yang terpenting bagi manusia pada
umumnya, sebab manusia merupakan makhluk yang memiliki tata krama,
sopan-santun, dan beradap dalam setiap aktivitas sehari-hari. Dalam Islam,
pendidikan merupakan suatu keniscayaan sehingga setiap muslim wajib dibekali
dengan nilai-nilai moral yang islami demi mempertinggi kualitas iman dan
masyarakat Islam itu sendiri. Kemudian, nilai-nilai moral ini harus ditanamkan
sejak kecil, terutama ketika masuk usia remaja. Kenapa begitu? Hal ini
dikarenakan bahwa pada saat itulah setiap manusia mengenal alam luar dan mampu
menangkap suatu fenomena secara kuat. Apa yang dia kenal saat itu sangat
melekat dan terkadang menjadi bagian penting dalam hidupnya. Dan disinilah
peran orangtua sangat amat dibutuhkan. Orangtua diharapkan bahkan wajib menjadi pengawas dan juga sosok orangtua yang memahami
anak-anaknya. Keluarga atau orangtua harus dapat memberikan fungsi efektif agar
seorang anak mendapatkan perhatian yang cukup sehingga perilaku anak bisa
dikontrol dengan baik.
Facebook, Tuhankah???
Reviewed by Belajar Membaca
on
Maret 20, 2016
Rating:

Tidak ada komentar