CERITA TENTANG SETIA
CERITA
TENTANG SETIA
Oleh :
Muhammad Muhajir
Berbicara
pernikahan kurang lengkap rasanya bila tak menyinggung tentang kesetiaan. Ya
setia adalah pondasi bangunan rumah tangga yang sangat kokoh. Tanpa kesetiaan
bangunan rumah tangga akan mudah sekali diruntuhkan oleh angin-angin yang berlalu-lalang.
“Mas, sampean
akan tetap setia mencintai neng tidak?” tanya seorang pengantin baru
pada suaminya. Sontak sang suami terdiam seribu kata. Tak pernah terlintas
dipikiranya bahwa kalimat tersebut akan keluar dari mulut manis perempuan yang baru
saja ia halalkan itu. Ya memang kadang kita sering kali bicara tentang cinta,
kasih sayang, rindu atau rasa takut kehilangan, namun kita jarang sekali bicara
tentang kesetian. Seolah-olah ‘setia’ adalah kosa kata baru dalam cerita kisah
cinta anak Adam.
“Neng, aku memilihmu hingga titik ini
karena aku melihat bersamamu akan ada masa depan yang cerah”. Ujarnya setelah
lama terdiam. “Oleh karena itu aku akan mencintaimu dengan setia. Mencintaimu
dengan setia adalah mencintaimu dengan penuh tanggung jawab dan kerelaan.
Seperti Nabi Adam yang rela terusir dari surga karena setianya dengan ibu Hawa, seperti
Nabi Yusuf yang rela dipenjara karena setia dengan Zulaicha, seperti Khadzijah yang
rela mengorbankan seluruh hartanya karena setianya kepada kanjeng Nabi
Muhammad shalallahu alaihi wasallam”. Sambungnya panjang lebar.
Ya, sekali
lagi kesetian adalah keberanian untuk mempertanggungjawabkan perasaan-perasaan
yang kita miliki. Sebagian kita atau bahkan setiap orang saat mencintai tentu
akan ada persaan lain yang menjadi pelengkap rasa sayangnya kepada seseorang
itu. Mungkin kita mencintai seseorang karena ilmunya yang luas, hatinya yang
baik, parasanya yang menawan, gesturya yang menarik, suaranya yang merdu, atau
apapun yang ada pada dirinya. Namun pada akhirnya semua yang kita andaikan dari
pasangan kita tak sepenuhnya dimikilinya. Maka mencintai dengan setia tak bisa
tanpa bersyukur. Bersyukur menerima apa adanya, menerima kekurangannya, dan
segala apapun yang ada pada dirinya. Pasangan yang gagal bersyukur akan
berfikir mencari sesuatu yang tidak ada pada pasanganya kepada orang lain. Padahal
kalau kita mau berfikir panjang, sebenarnya seberapa banyak pun kekurangan yang
dimiliki pasangan kita tidak bisa dibandingkan dengan begitu banyaknya
kelebihan-kelebihan yang telah diberikan dalam hidup kita selama ini.
“Apakah sampean tidak pernah menggumi wanita
lain?”. tanyanya lagi. Lagi-lagi sang
suami dibuat diam tak berkata. Memang menjadi laki-laki itu serba bingung saat
dihadapkan pertanyaan seperti itu. Mau dijawab iya takut dia sakit hati,
dijawab tidak, takut ketahuan bohong. Perlu diketahui sifat dasar wanita itu memang
tidak mau diduakan, tidak mau dibanding-bandingkan, apalagi sampai di
“poligami”. Sebagian mereka lebih memilih berpisah daripada di madu. Ya wanita memang seperti itu.
“Apakah
jika aku mengagumi wanita lain, berarti otomatis aku membandingkanya denganmu?
Apakah itu juga dianggap aku mencintainya? Suami balik bertanya. Kali ini sang
istri yang terdiam. Mereka pun berdua saling diam.
“memang
setia itu sulit. Hanya mereka saja yang bersungguh-sungguh mencintai yang bisa
setia” sambung sang suami.
“Jadi mas
setia ndak sama neng?” ucapnya dengan manja.
“Pembuktikan itu sangat sulit dari pada kata-kata,
bukan ? Namun ketahuilah, kenapa ada orang yang tidak setia? Biasanya karena
yang dia harapkan dari yang dia cintai tidak muncul. Ketika ada harapan-harapan
selain cintai itu sendiri berarti ada pamrih-pamrih. Ketika ada pamrih-pamrih
berarti belum ada cinta yang tulus. Cinta bukanlah harapan atau ratapan. walau
tiada harapan dia akan tetap mencintai”. Jawabnya.
“Jadi kalau memang benar itu cinta. Tidak udah kamu
tuntut untuk setia, pasti dia akan setia. Namun jika nanti sampai tidak setia
berarti belum cinta atau cintanya hilang. Kenapa cintanya bisa hilang? Karena
dulunya itu belum cinta, tapi ada harapan-harapan dan keiginan-keinginan dari
yang dia cintai, namun sekarang tak terpenuhi maka kemudian akan berpaling”. Tambahnya panjang.
“iya mas, maaf”.
Merasa bersalah.
“Neng hanya takut saja. Meski sampean
tak pernah membanding-bandingkan neng dengan orang lain, neng paling takut kalau sampean membanding-bandingkan
neng. Meski hanya dalam pikiran”. Sambungnya lebar.
“iya-iya Neng”. Sambil tersenyum.
CERITA TENTANG SETIA
Reviewed by Belajar Membaca
on
Juli 16, 2020
Rating:
Reviewed by Belajar Membaca
on
Juli 16, 2020
Rating:


Tidak ada komentar