Tawakal Gundulmu !
Oleh: Muhammad Muhajir
Ditengah pandemi virus Corona yang semakin hari terus meningkat,
saya kesal dengan orang-orang yang
merasa paling tawakal, sok-sokan, dan congkak. Ngeyel dan memaksa untuk tetap
shalat berjamaah dan jum’atan di masjid. “Jangan takut Corona, takutlah hanya kepada Allah. Kalau sudah waktunya mati
ya mati”. Kira-kira seperti itu
pernyataan mereka. Mereka mengabaikan segala himbauan dan peraturan yang telah
dikeluarkan pemerintah dengan tidak melakukan usaha bersama memutus rantai
virus Corona.
Bagaimana penyataan itu bisa muncul? Dangkal
ilmulah yang menjadi sebab peryataan seperti itu. Pemaknaan semacam itu
menjadikan sebagian umat Islam benar-benar pasif dalam memandang hidup.
Seolah-olah pikiran mereka telah terpola dengan kalimat, “semua telah
ditetapkan, sudah digariskan, dan ditakdirkan oleh Tuhan”.
Rasulullah menerangkan hakikat tawakal di hadist
tersebut dengan memberikan perumpamaan burung yang pergi pada pagi hari untuk
mencari rezeki, kemudian pulang dengan perut kenyang pada sore hari. Burung
tersebut dianggap telah menerapkan konsep tawakal. Sebab, ia berusaha mencari
rezeki kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Ia menjadikan Allah
sebagai satu-satunya tempat berserah diri setelah berusaha.
Menurut Umar bin Khatab, seseorang tidak akan dapat mewujudkan
keinginanya tanpa usaha dan doa. Inilah hakikat dari tawakkal itu sendiri.
Dalam hal ini, ada sebuah riwayat dikisahkan
bahwa Ali bin Abi Thalib mendapati orang-orang yang sedang berkumpul di masjid
dan bertasbih. Ali bertanya kepada mereka, “Apa yang kalian lakukan?” Mereka
menjawab, “Kami sedang bertawakal kepada Allah Swt.”
Ali menyanggah ucapan mereka, “Tidak. Kalian
sedang menunggu datangnya makanan. Jika kalian
termasuk orang-orang yang bertawakal, maka kalian akan memahami makna tawakal
yang sebenarnya”. Mereka menjawab, “Apabila kami menemukan sesuatu yang dapat
dimakan, maka kami akan memakanya. Jika tidak ada, maka kami tidak akan memakan
apapun”. Mendengar penjelasan mereka, Ali berkata, “Tindakan seperti itu juga
dilakukan oleh anjing”.
Selain itu ada kisah menarik yang menjelaskan tentang hakikat
tawakal. Suatu hari ada seorang pergi ke masjid dengan menggunakan unta.
Sesampainya di sana, ia tidak mengaitkan untanya pada sebuah pohon. Saat itu ia
berkata kepada Rasulullah, “Aku melepaskan untaku, lalu bertawakal kepada Allah
swt.” Rasulullah Saw. memarahinya “Ikatlah untamu, lalu bertawakal kepada Allah swt.” (H.R Tirmidzi)
Jadi sudah paham ya para pembaca yang
budiman. Tawakal tidak sesederhana seperti yang mereka pahami. Tawakal di
tengah genting merebahnya virus Corona seperti ini adalah mengikuti segala himbauan
pemerintah untuk social distancing (menghindari keramaian), sering cuci tangan, stay di rumah, tidak mudik dan sebagainya. Memang hidup mati ditangan Tuhan. Tapi menjaga kehidupan merupakan tanggungjawab kita kepada sang pencipta.
Maka dari itu, tetaplah berdoa dan berusaha dengan tetap di rumah saja. Semoga
kita semua terhindar dari bahaya virus Corona. Amien.
Tawakal Gundulmu !
Reviewed by Belajar Membaca
on
April 04, 2020
Rating:
Reviewed by Belajar Membaca
on
April 04, 2020
Rating:


Tidak ada komentar