Nabi Saja Menolak Khilafah



Nabi Saja Menolak Khilafah
Oleh : Muhammad Muhajir

Akhir-akhir ini kita disuguhkan beberapa kali ceramah dari sekelompok (oknum), yang ngakunya ustadz namun berafiliasi dengan kelompok pendukung tegaknya negara khilafah atau mereka yang ingin mengganti ideologi Pancasila dengan khilafah,  menuduh bahwa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam belum mampu menegakkan Islam rahmatal lil ‘alamin dan bagi mereka (katannya) Islam rahmatal lil ‘alamin hanya dapat dicapai hanya melalui tegaknya khilafah Islamiyyah. Pemahaman seperti ini jelas bentuk sesat pikir dari orang-orang yang hanya ingin menyenangkan bagian dari mereka yang menginginkan tegaknya syariat Islam dengan bentuk khilafah. Padahal Indonesia sudah bersyari’ah, salah satunya dalam bentuk Pancasila.   

Mari kita uji, pertama, perkataan (­ngakunya) ustadz yang menuduh bahwa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam belum mampu menegakkan Islam rahmatal lil ‘alamin. Benerkah seperti itu? Jelas salah besar. Dalam al-Qur’an surat al-Anbiya (21) : 107 dijelaskan “Dan kami tidak mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”. “Dan kami turunkan dari al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi obat dan rahmat bagi orang yang beriman” (Q.S. al-Isra` : 82). Kemudian muncul pertanyaan, apa sih cinta kasih (rahmat) ini dan mengapa Nabi sampai dituduh belum mampu menyampaikan Islam rahmatal lil ‘alamin? Kira-kira pertanyaan semacam ini dapat dijawab salah satunya dengan melihat kitab maulid al-Barjanzi. Diceritakan kala itu, masyarakat Makkah merenovasi Ka’bah setelah musibah banjir yang menenggelamkan kota, termasuk bangunan Ka’bah. Kondisi ini memanggil orang-orang Quraisy harus membangun Ka’bah kembali demi menjaga kehormatan dan kesucian situs peninggalan leluhur mereka, Nabi Ibrahim AS yang tetap dijaga kelestariannya.

Menurut riwayat yang paling shahih, ketika itu Nabi berusia 35 tahun. Aktif terlibat dalam pembangunan dari awal hingga akhir. Pada awalnya, mereka bersatu padu, saling bahu membahu di antara mereka. Namun ketika pembangunan memasuki tahap-tahap akhir, yakni prosesi peletakan Hajar Aswad. Mereka mulai berselisih pendapat, siapakah tokoh di antara mereka yang layak mendapatkan kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad sebagai tanda peresmian penyelesaian renovasi dan mulai dapat digunakan kembali. Banyak pendapat bermunculan dan saling simpang siur. Masing-masing saling mengedepankan pemimpin kelompoknya sendiri sehingga memicu pertikaian yang nyaris  berujung pertumpahan darah. Lalu apa yang dilakukan Nabi Muhammad kala itu? Melalui kecerdasaan profetiknya Nabi mampu menyelesaikan pertikaian tersebut. Yakni dengan membentangkan sorbannya menaruh hajar aswad di atasnya dan mengajak beberapa tokoh lain untuk turut serta meletakkan hajar aswad bersama-sama. Maka puaslah mereka atas keputusan Muhammad tersebut.

Melalui kisah Nabi tersebut dapat kita garis bawahi bahwa ketika itu Nabi belum diangkat menjadi Rasul dan wahyu belum turun.  Dengan belum diutusnya Nabi menjadi Rasul, Nabi saja sudah mampu mendamaikan bangsa, umat, dan rakyatnya kala itu apalagi ketika Nabi sudah diutus menjadi Rasul yang notabene sebagai rahmat untuk alam sebagaimana yang telah diterangkan dalam surat al-Anbiya (21) : 107 di atas.

Kedua, apakah benar Islam rahmatal lil ‘alamin hanya dapat dicapai hanya melalui tegaknya khilafah Islamiyyah? Lagi-lagi dangkal, sesat menyesatkan pikiran yang seperti ini. Kita perlu mengetahui bahwa daulah, empire, imperium adalah murni upaya penyesatan mereka yang sebenarnya mamlakah (kerajaan) tetapi mengklaim diri mereka sebagai Khilafah ‘Ala Manhajin-Nubuwwah. Sesuai dengan sejarah yang ada, sebenarnya khilafah hanya berlaku 30 tahun sampai pada masa pimpinan Sayyidina Husen bin Ali bin Abi Thalib setelah itu bentuknya bukan lagi khilafah namun berbentuk mamlakah, kerajaan atau dinasti seperti Dinasti Umayyah, Dinasti Abasiyyah, Mamluk, Saljuk, Fatimiyah dan Ustmani atau Otonam yang semua itu adalah bentuk kesukuan atau etnik yang sangat ditentang oleh Nabi Muhammad.

Salah satu misi diutusnya Nabi adalah memerangi etnosentrisme. Etnosentrisme adalah sebuah persepsi yang dipunyai masing-masing individu yang menganggap bahwa kebudayaan yang dimiliki lebih baik dari budaya lainnya. Bisa dikatakan etnosentrisme adalah sikap fanatisme terhadap suku bangsanya sendiri. Orang yang etnosentris akan menilai kelompok lain dengan nilai yang relatif baik untuk kelompok dan kebudayaannya, khususnya yang berkaitan dengan bahasa, perilaku, kebiasaan, dan juga agama. Bukti Nabi memerangi etnosentrisme adalah menghilangkan gelar-gelar kesukuan. Membicarakan kesukuan pada masa Nabi adalah sesuatu yang dianggap aib dan tidak terpuji. Oleh karena itu, Nabi menghapus gelar-gelar kesukuan. Gelar kesukuan Abu Bakar At-Taimi diganti menjadi as-shidiq, gelar Umar bin Khattab al-Adi menjadi al-faruq, Ustman bin Affan Al-Umawi diganti menjadi dzun nurain, gelar Ali bin Abi Thalib diganti al-Murtadho dari kesukuan al-Hasyimi. Itu semua menunjukan bahwa Nabi memerangi khilafah perspektif Hizbut Tahrir. Mengapa? Karena Hizbut Tahrir ingin mendirikan kembali kesukuan-kesukuan, etnosentrisme.

Jadi dapat disimpulkan bahwa khilafah ini adalah ingkar sunnah tidak sesuai dengan tuntunan Nabi dan Al-Qur’an.   Allah berfirman dalam Q.S Ali-Imran : 159, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu..” Ayat tersebut yang menjadi dalil bahwa dalam sebuah negara harus ada proses musyawaroh atau demokrasi yang mana hal tersebut tertuang dalam Pancasila sila ke empat. Jadi apa problemnya mereka yang gembar-gembor, teriak-teriak dijalan-jalan, di media sosial dan dimana-mana ingin menegakkan khilafah, rahmatal lil ‘alamin hanya dapat tegak hanya dengan khilafah, hello? Saya pikir tidak ada ruang untuk mereka di Indonesia.

Kesimpulanya adalah mereka yang menolak Pancasila, mereka yang menolak UUD 1945, mereka yang menolak demokrasi di Indonesia tak lain adalah BUGHOT. Yakni ingin mendirikan negara dalam negara. Dalam hal ini ialah ingin menegakkan khilafah Islamiyyah di negara Demokrasi, Pancasila, UUD 45, NKRI. Mereka adalah musuh agama, bangsa dan musuh negara. Oleh karena itu wajib hukumnya memerangi mereka. “....kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah.” Q.S. Al-Hujarat : 9.

Nabi Saja Menolak Khilafah Nabi Saja Menolak Khilafah Reviewed by Belajar Membaca on Oktober 17, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar

Press