Berlari Dari Takdir
Berlari Dari Takdir
Oleh
: Muhammad Muhajir
“Semuanya sudah
ditetapkan, segalanya sudah digariskan, semuanya sudah ditulis di Lauhil
Mahfud, untuk apa saya harus bekerja, belajar, berusa dengan keras? Kalau takdir saya kaya, sukses, pandai toh suatu saat
juga kaya, sukses, pandai sendiri”
Inilah kata-kata yang sering kita
dengar dari orang-orang yang malas, tidak sabar atau yang sedang gagal dalam
mencapai suatu kejayaan hidup. Seolah-olah pikiran mereka sudah terpola dengan
kalimat tersebut. Lagi-lagi dangkal pikiranlah yang menjadi biang keroknya.
Mungkinkah kesuksesan, kepandaian, kemapanan bisa diraih dengan pasrah? Adilkah
jika kesuksesan, kepandaian, kemapanan dihadiahkan kepada orang yang pasrah?
Tidak perlu bertanya pun naluri kita pasti serentak memiliki jawaban yang sama
“TIDAK!”
Ya memang, tinta pena pencatat
takdir telah mengering. Lembaran-lembaran catatan hidup kita pun telah
tersimpan dengan rapi. Setiap perkara yang akan terjadi sudah
ditetapkan. Takdir yang terjadi didalam hidup kita sejak usia kandung empat
bulan hingga kematian pun telah diputuskan. Semua yang telah digariskan
oleh Allah pasti akan terlaksana. Semua ketentuan-Nya akan berjalan lancar
dan pasti akan terlaksana. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Hadid ayat
22 yang maknanya “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak
pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Luhil Mahfudz)
sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi
Allah.”
Meskipin demikian, yang perlu kita ingat adalah kehidupan bukanlah suatu
hal yang diberi dengan gratis kita terima dengan apa adanya. Justru
sebaliknya, selalu ada ruang bagi manusia untuk menjatuhkan pilihan. Peran
manusia sangat memungkinkan untuk beralih dari takdir satu menuju takdir yang
lain, tergantung bagaimana usaha kita. Kita bisa berlari dari takdir Allah yang
satu ke takdir Allah yang lain. Dengan takdir Allah pulalah, Allah menghapus
apa yang dia kehendaki dan menetapkan (apa yang dikehendaki), dan disisi-Nyalah
terdapat Ummul Kitab (Lauhil Mahfud). [Lihat Q.S. Surat
Ar-Ra’d:39]. Bukankah juga telah jelas dalam firman-Nya, bahwa Allah tidak akan
mengubah nasib seseorang sebelum orang itu mengubah nasibnya sendiri?
[Q.S. Surat Ar-Ra’d:11].
Selain itu, bila
kita cermati lebih dalam ternyata redaksi yang tertulis dalam Al-Qur’an
bukanlah berbunyi “qoddartu” (aku takdirkan) melainkan kata “qoddarna”
(kami takdirkan). Kita tahu bahwa dhomir mutakallim ma’al ghoir (kami)
di sini tidak hanya bermaksud sebagai bentuk pengagungan terhadap
Allah. Menurut sebagian ulama, pilihan kata “kami” dalam kalimat tersebut
bermakna bahwa ada peran sesuatu yang lain dalam menentukan takdir, yaitu peran
manusia itu sendiri. Kemudian jika sudah demikian, yang menjadi pertanyaanya
adalah bagaimana cara mengubah takdir? Sedangkan kita sudah berusaha?
Kalau saya katakana bahwa takdir
bisa berubah, kemungkinan besar banyak yang tidak setuju. Mereka akan merasa
heran dan bertanya-tanya “kok takir bisa dirubah?” Bukankah dalam riwayat
penciptaan manusia bahwa ajal, rizki, jodoh, kehidupan baik maupun buruk sudah
sudah ditetapkan? Untuk menjawab tersebut ada baiknya kita uraikan definisi
Qodho’ dan Qodar yang dalam bahasa melayu keduanya disamakan menjadi satu
dengan istilah takdir. Qodho’ bermaksud pelaksana, hasil, buah (realisasi).
Adapun Qodar bermaksud anggaran atau rencana. Sedangakan Qodho’ itu sendiri
terbagi menjadi dua bagian yaitu Qodho’ Mubram (ketentuan yang tidak
akan berubah) dan Qodho’ Mu’allaq yaitu ketentuan Allah yang digantung
atau bersyarat. Dalam artian ketentuan tersebut bisa berlaku dan terjadi, dan
boleh juga tidak terjadi pada diri seseorang.
Adapun salah satu cara untuk
mengubah takdir adalah dengan berdoa. Doa adalah bentuk pengakuan terhadap
ketidakmampuan kita dalam mengatasi persoalan hidup tanpa pertolongan Allah.
Doa adalah bentuk kerendahan hati seorang hamba yang lemah terhadap kekuatan
Tuhan-nya. Malah tergolong orang yang sombong apabila ada hamba yang tidak mau
meminta atau berdoa pada Tuhan-nya. Lalu kita boleh bertanya lagi “Lalu untuk
apa kita berdoa kalua semua sudah ditetapkan? Kalau toh takdir
kita akan berhasil, tanpa berdoa pun kita juga akan berhasil. Dan kalau
saya ditakdirkan gagal, toh pasti akan gagal meskipun telah berdoa?”
Pertanyaan tersebut dijawab oleh
Syekh Muhammad Salamah Jabr dalam kitabnya Laa Yaruddu Al-Qodho’a Illa
Ad-Du’au. Beliau menjelaskan bahwa doa pun merupakan takdir dari Allah.
Jika Allah berkehendak menjauhkan keburukan dan melimpahkan kebaikan kepada
hamban-Nya, maka akan diilhamkan kepada hamban-Nya tersebut untuk
berdo’a kepada-Nya. Sehingga Allah mejadikan takdir doa tersebut sebagai faktor
penyebab terjadinya takdir yang lain. Rasulullah pun pernah besabda yang
artinya “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa.” (Sunan Ibnu
Majah).
Jadi intinya, takdir adalah sebuah
misteri. Kita tidak tahu apa takdir kita nantinya. Maka tidak usah lagi memperdebatkan takdir, yang terpenting adalah selalu berusaha, selalu bekerja keras, selalu belajar, dan
terus berbuat baik. Semua itu tentu dibarengi dengan doa dan tawakkal. Niatkanlah semua usaha
dan kerja keras kita semata-mata hanya untuk mengapai ridha-Nya. Yakinlah jika
Allah tujuan kita, Allah akan bersama kita. Suatu saat Allah pasti akan menentukan kesuksesan kita disaat yang tepat. Amien.
Berlari Dari Takdir
Reviewed by Belajar Membaca
on
Juni 30, 2019
Rating:
Reviewed by Belajar Membaca
on
Juni 30, 2019
Rating:


Tidak ada komentar