Makhluk Gengsi

Mahkluk Gengsi
Oleh : Muhammad Muhajir

Terkadang saya merasa aneh “ko bisa seperti itu ya?” ketika menjumpai orang-orang yang sulit menerima kebaikan, mendegar kebenaran, atau legowo dengan kesalahan. Ya itulah mungkin yang dinamakan “gengsi”. Gengsi menerima kebenaran, karena datangnya itu dari orang rendah, tidak lebih pintar dari dirinya atau gurunya atau menganggap kelompoknya paling benar sehingga tidak menghiraukan kebenaran yang datang dari kelompok lain. Lebih memilih berbohong karena gengsi, bahkan gengsi kafir tidak mengimani kebenaran agama yang disampaikan Nabi Muhammad yang nyata-nyata dia sendiri menyakini realita kebenaranya, sebagaimana yang dialami oleh Abu Jahal dan kawan-kawan. (termasuk yang saya bingung juga ya, gengsi-nya perempuan jika ingin menyatakan perasaan terlebih dahulu kepada pria yang dia taksir...hehe)

Saya jadi teringat orboral seorang Sufi dan Sultannya. Sang Sultan ingin mendengarkan satu kebenaran dari Sufi tersebut. “Mampukah telingamu mendengarkan kebenaran? Suara kebenaran melebihi suara petir di siang hari, selaput telingamu bisa terkoyak” kata sang Sufi. “Apa gunanya sepasang telinga yang tidak mampu mendengarkan kebenaran? Biarlah selaput telingaku robek, aku tetap ingin mendengarkan suara kebenaran” pinta lagi Sultan. “Baiklah, suatu saat nanti aku akan datang lagi ke istanamu untuk menyampaikan kebenaran.” Akhirnya beberapa tahun kemudian datanglah Sufi tersebut ke istana Sultan. Mendengar yang ditunggu-tunggu datang, Sultan pun bergegas untuk menyambutnya ke gerbang istana. Turut bersama Sultan saat itu sang putra mahkota, putra tunggal Sultan. Mereka menyalami sang Sufi, “Selamat datang, silahkan masuk Sufi”. “Tunggu dulu, biarkan aku mendoakan putramu dulu” kata sang Sufi. Lalu ia menepuk-nepuk kepala Putra Mahkota sambil berkata, “Kamu akan mati.” Sultan sepertinya tidak mempercayai telinganya sendiri. “Apa yang kau katakan Sufi? Hanya untuk inikah kau datang? Untuk mengutuk anakku? Untuk menyumpaihinya?”, Sang Sultan sangat marah, bahkan diantara para prajuritnya ada yang sudah mengeluarkan pedang dari sarungnya. “Apa yang kau katakan Sultan? Kau keliru menafsirkan kata-kataku. Untuk apa aku harus mengutuk anakmu? Aku hanya memberikan sebuah pernyataan, ‘Kau akan mati’, dan pernyataanku itu berlaku bagi setiap makhluk hidup. Yang lahir pasti akan mati. Aku hanya menyampaikan kebenaran Sultan. Kau pernah menanyakan, dan aku datang untuk menyampaikanya. Sultan rupanya kau belum bisa mendengar kebenaran”.

Kisah menarik dari Negeri Sufi tersebut pada dasarnya sindirian luar biasa bagi kita umat beragam. Siapkah mendengar kebenaran? Menerima kepahitan? Menerima kebaikan? legowo dengan kesalahan? Rupanya karena tidak semua orang siap menerima kenyataan-kenyataan yang “kurang enak” menurut pandangannya, maka tidak mengherankan jika banyak orang yang menutup mata, menutup telinga, menutup hati, antipati atau menolak mentah-mentah – baik secara langsung atau tidak – terhadap segala wacana, disiplin kajian, diskusi maupun sekedar obrolan yang mencoba mengungkap suatu kenyataan tertentu. Sungguh sombong jika demikan halnya. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan yang sangat keras. Rasul bersabda: "Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi. Ada seorang yang bertanya, bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus? Rasul menjawab, sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremahkan orang lain". (H.R Muslim no. 91)

Yang dimaksud orang sombong oleh Rasulullah adalah orang yang tidak mau mendengarkan penjelasan, keterangan, perkataan orang lain atau pihak lain dan menolaknya. Karena menurutnya, dirinya atau kelompoknya lebih benar, lebih pintar, lebih berilmu, lebih baik, dan lebih-lebih segalanya.

Akibat kesombongan tersebut orang seperti ini menjadi gengsi. Jika kebenaran dan kebaikan disampaikan atau ditunjukkan kepadanya dari pihak lain maka dadanya terasa sesak. Alih-alih menerima dengan lapang dada, malah bisa sebaiknya, mencari-cari celah kesalahan atau mencari dalil untuk membantah dan mematahkan argumen yang disampaikan kepadanya. Dan yang lebih parah dari itu, malah merendahkan, menghina, mencemo'oh bahkan sampai mengkafir-kafirkan, astaghfirullah. Semoga kita semua dijauhkan dari sifat-sifat buruk tersebut. Amin.




Makhluk Gengsi Makhluk Gengsi Reviewed by Belajar Membaca on Juli 12, 2019 Rating: 5

1 komentar

Press